SITISYAHIDA (:

When Hardship Afflicts A Believer
Thursday, 6 March 2014 | 07:42 | 2 Words

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM.


'Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan'
[QS. Asy-Syarh :5-6]

Ya. Yakinlah. Sesungguhnya bersama setiap kesulitan itu ialah kemudahan. Yakinlah dengan setiap kata kata Allah. Mungkin sesetengah mereka akan bertanya,

"Kata-kata Allah? Eh, Allah bercakap macam manusia ke? Ke macam mana?"

Bak kata ustaz di masjid tadi,

"Tiada yang 'macam mana' 'bagaimana' dan 'gane' dalam sifat Allah ni. Itu semua urusan Allah. Kehebatan Allah. Kita yang lemah ni nak menyibuk urusan Allah tu buat apa? Segala suruhan Allah pun tak terbuat lagi, sibuk nak persoalkan keadaan Allah. Cukuplah dengan kita memuji segala penciptaanNya dan bersyukur ke atas nikmat yang diberikan kepada kita."

Teringat saya akan nama yang disebut oleh ustaz minggu lepas di masjid ketika kuliah, iaitu Raja Thalut.
Sebenarnya saya tak pernah mendengar nama tu (sesungguhnya ilmu saya masih terlalu cetek. Astaghfirullah.) Jadi saya google nama beliau lalu terjumpa kisah lengkap tentangnya yang ustaz dah ceritakan secara ringkas minggu lepas.

In The Name Of Allah Who is The Most Gracious and Most Merciful.

Thalut diangkat oleh Allah untuk menjadi seorang raja setelah kaum Bani Israil ketika itu meminta kepada nabi mereka, Nabi Samuel untuk melantik seorang raja supaya mereka berperang dibawah pimpinannya.
Namun begitu, mereka menolak sekeras kerasnya keputusan itu kerana Thalut merupakan seorang petani dan penternak yang miskin maka bagi mereka tidak sewajarnya mereka tunduk dibawah pemerintah yang miskin.

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah:247)

Kisah Thalut membawa bala tentera seramai 80 ribu orang (terdapat riwayat lain mengatakan 300 ribu orang, wallahua'alam) untuk melawan Jalut dan Nabi Daud as. (ketika peperangan ini Daud belum lagi diangkat menjadi nabi). Jadi hendak dijadikan cerita, peperangan itu berlaku ketika musim panas maka seluruh bala tentera berasa sangat dahaga. Namun, di padang pasir yang luas itu sangatlah mustahil untuk mereka menjumpai air. Thalut berkata :

 ”Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”(QS. Al-Baqarah:249)

Tibalah mereka pada sebuah sungai antara Jordan dan Palestin nafsu mereka mengalahkan segalanya. Banyak dari tentara Thalut melanggar perintah tersebut dengan meminum air sepuas-puasnya pada sungai tersebut. Dan tentara Thalut menyusut menjadi 319 orang (riwayat lain, 313) yang tetap taat terhadap perintah Thalut dengan minum secukupnya.

Setelah itu, mereka meneruskan perjalanan, Thalut dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka yang tidak taat berkata:


 ”Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.”(QS. Al-Baqarah:249)

Namun, bagi mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah pula berkata:


”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah:249)

Maka, semakin berkuranglah tentera Thalut yang terus berjuang. Mereka berhasil mengharungi segala ujian Allah. Mereka sangat kuat dan bersemangat. Mereka tidak seperti orang-orang yang luntur iman mereka, yang telah keluar sebelum sempat berhadapan dengan bala tentera Jalut.
Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tenteranya, mereka berdoa: ”Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kukuhkan lah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”(QS. Al-Baqarah:250)
Meskipun dengan jumlah tentara yang sedikit, Thalut tetap maju melawan Jalut. Kedua pasukan pun bertemu dan terjadilah perang tanding satu lawan satu. Daud a.s juga mendapat giliran. Ia berani melawan Jalut, pemimpin pasukan lawan. Melihat sosok kecil Daud a.s, Jalut meremehkannya dengan menggertak, ” Nyahlah kau, aku tidak suka membunuh anak kecil.” Tidak mahu kalah, Daud menyahut, ” Aku suka membunuhmu.” Serangan Daud ternyata menjatuhkan Jalut. Daud mampu mengalahkan, bahkan membunuh Jalut. Dengan demikian, pasukan Thalut memetik kemenangan. Keberhasilan Daud ini menjadi buah bibir di kalangan Bani Israil.
Setelah beberapa tahun berlalu Raja Thalut wafat dan akhirnya Allah memberikan kekuasaan pada Daud menggantikan Talut dan mengangkat Daud menjadi Nabi.
Allahurabbi. Betapa besar berkat kesabaran pejuang agama Allah ketika dahulu. Jika ingin dibandingkan dengan kita sekarang? Allah. Sungguh aku malu ya Allah. Sedangkan ujian Mu yang kecil pun aku sukar hadapi. Jelas. Sangat jelas menunjukkan umat akhir zaman merupakan umat yang lemah. Ampunkan kami Ya Allah. Tempatkanlah kami di syurga Mu ya Allah. Amin. 
Wallahua'alam.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kosong Enam Kosong Tiga Dua Kosong Satu Empat - 06 03 2014 - 6 March 2014
Perginya Kiko kesayangan saya. Semoga Kiko tenang disana. Maafkan segala salah silap Kak Ieyda terhadap Kiko.

Love,
Kak Ieyda.


-Past- | -New-